Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

INAN NO NIA OAN BE LAORAI

Gambar
Tinan 5 ona sira fahe malu. Nia inan hela mesak iha uma bloku kor abu-abu andar rua be harii ho kosar-been husi nia oan be laorai. Nia oan hela iha kuartu ida iha   flat   ho ninia maluk laorai sira iha sidade Relojio-Boot nia leet. Kalan-kalan, nia serbisu makaas hisik kosar nudar empregadu fábrika tan de’it atu hetan lesuk ‘ Poundsterling’ liman isin ida ba nia no ninia familia iha mundu huun loro—sa’e ne’ebá.   Wainhira kalan mai, nia hateke ba lelehan metan husi janela vidru hodi pinta feto ferik ida be nia hadomi tebes ne’e nia oin ho harohan.          Dook husi nia, iha uma kor bloku abu-abu ne’e, kalan-kalan nia inan sei nafatin suru hela hahan iha nia oan nia bikan favoritu. Wainhira nia alin sira husu ‘tansa etu bikan ida ne’e   tenki hatuur nafatin Ma? Amaun laiha ona ne’e?’ nia inan hatan, ‘Oan, ne’e ba o nia maun. Husu boot nia mos iha rai-dook ne’eba han dadauk hanesan ita agora.’ Han kalan hotu tiha, oan sira ida-idak dukur ona iha sira nia kuartu. Molok

IBU DAN ANAKNYA YANG MERANTAU

Gambar
www.pinterest.com Sudah 5 tahun mereka berpisah. Ibunya tinggal sendiri dirumah tembok kokoh abu-abu bertingkat dua yang dibangun dari hasil keringa t anaknya yang sedang merantau. Anaknya tinggal disebuah kamar flat bersama teman-teman sesama anak rantau di tengah kota Jam Dinding Besar itu. Tiap malam, ia banting tulang bekerja sebagai buruh pabrik demi segenggam poundsteling untuknya dan keluarganya diujung timur dunia. Ketika malam tiba, ia pandangi langit malam dari jendela kaca itu sambil melukis wajah wanita tua pujaannya dengan doa.  Sementara dirumah tembok abu-abu itu, tiap malam ibunya masih setia menyisihkan jatah makan malam di piring kesayangan anaknya. Bila adik-adiknya bertanya 'kenapa nasi sepiring itu harus selalu dihidangkan mah? Kakak tidak disini lagi kan?'  Ibunya menjawab 'Nak ini untuk kakak. Semoga diperantauan sana ia juga sedang makan malam seperti kita.' Selesai makan malam, satu-persatu anak-anaknya mulai terlelap dikamar mer

Dia Seorang Putra Altar

Gambar
Pada suatu ketika, dalam barisan tunggal komuni, kulihat sepasang mata sipit indah itu menatapku dari altar dengan senyum tipis dari wajah lugunya yang seolah berkata 'mari makin mendekatlah'.  Ia berdiri disamping imam menyodorkan pinggan emas untuk setiap mulut yang menerima hosti suci. Dan aku gemetar dalam setiap langkah majuku kepadanya dan sang imam. Tidak pernah kudapati tatapan seperti itu darinya. Masihkah aku pantas maju atau haruskah aku keluar dari barisan?  Aku semakin kedepan dan dia masih menatapku. Terang kerah kuning melingkar pada jubah putra altar itu makin menyinari wajahnya. Selangkah demi selangkah aku maju, dengan jantung yang seolah siap meledak bagai bom waktu. Sampai tiba giliranku berdiri didepan tatapannya, waktu seolah berhenti seketika. Kupejam mataku dan hosti putih kecil itu masuk ke mulutku.  Aku segera bergeser dan berbalik ketempat dudukku. Komuniku mungkin telah tercemar dalam missa ini.  Sejak itu, tiap kali aku ikut mis

Dia Seorang Putra Altar

Gambar
Pada suatu ketika, dalam barisan tunggal komuni, kulihat sepasang mata sipit indah itu menatapku dari altar dengan senyum tipis dari wajah lugunya yang seolah berkata 'mari makin mendekatlah'.  Ia berdiri disamping imam menyodorkan pinggan emas untuk setiap mulut yang menerima hosti suci. Dan aku gemetar dalam setiap langkah majuku kepadanya dan sang imam. Tidak pernah kudapati tatapan seperti itu darinya. Masihkah aku pantas maju atau haruskah aku keluar dari barisan?  Aku semakin kedepan dan dia masih menatapku. Terang kerah kuning melingkar pada jubah putra altar itu makin menyinari wajahnya. Selangkah demi selangkah aku maju, dengan jantung yang seolah siap meledak bagai bom waktu. Sampai tiba giliranku berdiri didepan tatapannya, waktu seolah berhenti seketika. Kupejam mataku dan hosti putih kecil itu masuk ke mulutku.  Aku segera bergeser dan berbalik ketempat dudukku. Komuniku mungkin telah tercemar dalam missa ini.  Sejak itu, tiap kali aku ikut mis